Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2015

Berawal dari Keyakinan

Gambar
Saat menikah lebih dari 6 tahun yang lalu, saat itu suami baru lulus S1 dan saya belum lama bekerja di sebuah perusahaan swasta. Karena kondisi awal pernikahan yang memang penuh perjuangan, kamipun menjalani LDM, suami menjalankan aktivitas di Semarang dan saya bekerja dan tinggal bersama orang tua di Purbalingga. Tidak mudah memang, kami juga hanya memiliki sedikit waktu untuk bertemu. Hingga tak lama kemudian suami diterima bekerja di sebuah sekolah di Bandung. Sekolah tersebut memiliki sistim boarding school atau mengadopsi sistem pesantren. Suami hanya libur hari minggu. Jadi jika pulang Sabtu malam dan minggu malam harus kembali ke Bandung. Sungguh sangat melelahkan. Saat itu kami masih menggunakan matematika logika. Gaji suami + gaji saya = penghasilan kami.
Suami bertahan di Bandung kurang lebih selama 6 bulan. Hingga akhirnya kami sepakat, suami keluar dari pekerjaannya dan mengambil kuliah S2 di Yogya. Kami berpikir, orang akan dimuliakan karena ilmunya. Semakin bertambah il…

Asyiknya Perawatan di Rumah, Kerjaan Beres Wajah Fresh

Gambar
Dulu, saat masih bekrja dan belum menikah, meski tidak sering, saya masih bisa punya me time dengan pergi ke salon. Kadang sendiri, kadang bersama teman-teman. Untuk perempuan, perawatan kecantikan memang bukan melulu untuk bikin kulit dan wajah halus mulus, tapi juga bikin pikiran lebih fresh. Bisa sebagai hiburan dari rutinitas dan kesibukan sehari-hari. Apalagi dengan jam kerja yang padat sampai sore, mana sempa creambath, spa, manicure pedicure. Paling banter buat saya bersihin make up, bersihin muka dan kadang luluran, kalo sempat, kalo inget, kalo ga males. Nah, di salon kita tinggal duduk manis sambil menikmati perawatan wajah dan tubuh yang diinginkan. Bukan cuma untuk tampil cantik dan awet muda aja, tapi juga untuk badan lebih bersih dan sehat, sekaligus untuk relaksasi.
Begitu menikah, apalagi setelah punya anak, aduuhh, mesti mikir kalo ke salon ntar anak siapa yang jagain? Dan ga bisa lama-lama biar anak ga rewel ditinggal ibunya nyalon. Saya terakhir ke salon 2 tahun la…

Antara Macet dan Mudik Lebaran

Gambar
Info lengkap disini
Alhamdulillah, kita telah melewati shaum Ramadhan dan Idul Fitri di tahun ini. Bagi kami sekeluarga, setiap ramadhan memiliki cerita yang berbeda. Dan karena tahun ini tahun kedua kami tinggal di Wonosobo, kali ini kami berlebaran di rumah orang tua di Purbalingga dan 3 hari kemudian berangkat melanjutkan silaturahim megunjungi orang tua dan keluarga besar di Jepara. Dan seperti biasa, setiap liburan usai menyisakan cerita yang tak pernah sama dari tahun ke tahun.
Puasa tahun ini, Isya ( 5 tahun) dan Himda (3 tahun) sudah mulai belajar puasa. Mereka sahur jam 6.00 pagi lalu buka puasa saat adzan Dhuhur, dan disambung puasa lagi sampai Ashar atau Maghrib, semampunya. Mereka antusias banget latihan puasa, jika ditanya puasa atau tidak, Isya akan menjawab mantap, Puasa Bedhug (puasa sampai Dhuhur). Mereka berdua juga semangat mengikuti rutinitas rutin selama bulan ramadhan di kompleks perumahan kami yaitu sehabis Ashar anak-anak mengaji Qiroati di TPQ lalu pulang seb…

Membatik, Ya Astoetik

Gambar
Batik identik dengan warisan dan budaya Indonesia. Tahun 2009, UNESCO telah menetapkan batik sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan nonbendawi (masterpieces of the oral and intangible heritage of humanity) yang diwariskan turun temurun dari generasi ke generasi. Ada berbagai motif batik dan daerah penghasil batik seperti batik pekalongan, batik troso Jepara, batik Solo, batik Yogyakarta, batik Madura dan lain sebagainya. Agar budaya batik tetap langgeng diperlukan tindakan untuk terus melestarikannya dengan berbagai inovasi dan perkembangan teknologi. Salah satu alat terpenting dalam membuat batik adalah kompor, jika dulu masyarakat membatik menggunakan minyak tanah yang kestabilan panasnya kurang terjaga, kini hadir kompor Astoetik dengan panas yang stabil agar proses pewarnaan dengan "canting lebih mudah.
 Membatik dengan Astoetik (dok. Astoetik)
 Nah, kompor batik listrik Astoetik adalah produsen kompor listrik asli Indonesia yang merupakan salah satu …

Nikma Basyar,Sepatu handmade Cantik dari Indonesia

Gambar
Segala sesuatu yang besar dimulai dari hal kecil. Bahkan mungkin hal yang awalnya tidak terpikir oleh orang lain. Mungkin ini yang dialamai oleh Nikmatus Sholihah atau yang lebih dikenal dengan nama Nikma Basyar. Berawal dari kesulitannya memperoleh ukuran sepatu yang sesuai dengan kakinya, Nikma berkreasi membuat sepatu sendiri. Dengan begitu, perempuan berjilbab tersebut merasa percaya diri karena model dan ukuran sepatu sesuai dengan keinginannya. Selain itu, mudah di-mix-match dengan baju yang dipakai. Ukuran sepatunya 35 ukuran dewasa bukan, ukuran anak-anak juga bukan. Dengan membuat sepatu sendiri, ia bisa bebas berkreasi sekaligus menemukan ukuran sepatu yang pas.
foto: Nikmabasyar.com

Nikma pun berkreasi dengan aneka macam bahan kain. Antara lain, kain katun, kanvas, batik, jins, dan kain impor dari Jepang. Satu jenis kain tidak berpatok pada satu sepatu. Namun, kain bisa dikombinasikan sehingga menjadi sepasang sepatu yang cantik. Hasilnya, berbagai macam sepatu canti…