Telaga Warna, Penuh Legenda Penuh Pesona

Ini adalah tahun kedua kami tinggal di Wonosobo, dan sudah sejak awal kami ingin mengajak anak-anak berwisata ke Dieng yang bisa ditempuh sekitar 1 jam dari rumah. Setelah tahun lalu kami ke menikmati indahnya pemandangan perkebunan Tambi dan membawa oleh-oleh Teh Tambi (Teh Tambi,Segarnya Teh Indonesia), tahun ini alhamdulillah kami bisa menginjakkan kaki di Dieng. Kebetulan usia anak-anak sudah cukup untuk di bawa jalan-jalan ke pegunungan yang memerlukan stamina fit. Sebelum berangkat, kami memastikan Isya (4,5 tahun) dan Himda (2,5 tahun) kondisi sehat. Sebelum berangkat mereka juga minum madu, sarapan, dan gak lupa pakai baju hangat, topi dan sarung tangan. Sayang sekali maskernya ketinggalan.

Terlalu banyak obyek wisata di Dieng yang pengen dikunjungi. Meski buat saya dan suami ini bukan yang pertama kali ke Dieng, tapi ini pengalaman pertama buat Isya dan Himda piknik ke pegunungan jadi kami putuskan ke Telaga Warna. Karena hari pas liburan, Dieng cukup ramai dikunjungi pengunjung dari berbagai daerah. Di sepanjang jalan banyak penginapan, dan toko-toko yang menjual souvenir seperti syal dan topi gunung. Berhubung kita turis lokal jadi langsung aja ke Telaga Warna, tiketnya murah bingiittss cuma Rp. 7.500/orang.

Telaga Warna berada di ketinggian 2000 meter di atas permukaan laut, dan dikelilingi oleh bukit-bukit tinggi yang menambah pesona keindahan alam sekitar telaga warna. Taman Wisata Alam Telaga Warna ini juga memiliki Filisofi Tatanan Pesan Moral Jawa yang Sangat Adi Luhung,

Salah Satu Mitos yang Cukup Populer di Masyarakat Dieng, Konon Katanya Telaga Warna ini Adalah Salah Satu Tempat Mandinya Dewi Nawang Wulan ( 7 Bidadari),  Dan Bagaikan Sebuah Perjalanan Manusia Mencari Makna Hidup, Tempat ini Pun dari Dahulu dijadikan Sebagai Tempat Pembentukan Karakter Manusia, Sehingga , di setiap Sudut Tempat ini Memancarkan Makana, Dimulai dari warna air yang ada di Telaga Warna yang melambangkan lima unsur Manusia atau disebut juga ” Sedulur Papat Kalima Pancer ” yang berarti bahwa kita manusia yang terlahir dari kandungan seorang ” ibu ” yang kelak akan menjalani kehidupan yang intinya kita harus ingat kepada ” Sang Pencipta ”serta Menghormati ibu dan hidup bermasyarakat menurut ajaran Agama ”.

Dan dilanjutkan perjalanan kita menuju sebuah cermin besar yaitu Telaga Pengilon yang berarti ” Cermin ” untuk kita melihat sisi baik dan buruknya sifat yang ada dalam menjalani Kehidupan, Dan setelah itu kita lanjutkan perjalanan menuju sebuah batu yang dinamakan Batu Tulis yang Berarti kita Manusia harus Memiliki Pedoman hidup atau Kitab untuk  Belajar Agama , Dilanjutkan lagi menuju Goa Semar yang Berarti ” Ngguguo Maring Sing Samar ” ( Tuhan yang Maha Esa ) dan di depan Goa tersebut terdapat sebuah nama ” Eyang Sabdo Jati ” yang artinya kita harus mencari Kesempurnaan Sejati dengan mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta ,


Dilanjutkan lagi menuju Goa Sumur yang di dalamnya terdapat sebuah mata air yang dinamakan masyarakat setempat dengan nama  ” Tirta Perwita Sari ” yang berarti Mata Air Kehidupan ,  dan di depan Goa tersebut juga terdapat sebuah papan nama yaitu Eyang Kumala Sari yang berarti ” Carilah pendamping hidupmu secantik batu permata yang indah tiada duanya dan utama yang penuh cinta dan kasih sayang , patuh terhadap orang tua dan bisa membawa kehidupan kita ke jalan yang benar di Dunia dan Akhirat ” ,

Dan yang terakhir kita akan menuju  Goa Jaran yang berarti Kuda ( Bahasa Jawa ) yang berarti ” Ojo Ngujo Sak Paran- paran atau ” manusia harus bisa mengendalikan nafsu yang ada dalam dirinya ” , dan di depan Goa tersebut juga terdapat papan nama ” Resi Kendali Seto ” yang berarti ” Manusia yang bisa mengendalikan hawa nafsunya dan berjalan dijalan yang Putih ”

Saya terakhir ke Telaga Warna pas SMU, dan itu udah lamaaaa buanget. Sekarang Telaga Warna sudah lebih indah dan tertata rapi. Setelah melewati pintu masuk, ada deretan bunga-bunga indah (yang engga tau namanya)  Banyak banget yang selfie disini dan Himda juga seneng banget selfie di sini.


Tidak jauh dari pintu masuk kami langsung menjumpai Telaga Warna yang bening kehijauan. Ada dua persimpangan, sebelah kanan ke Telaga Pengilon dan gua-gua, sebelah kiri ke kawah Sikendang dan  Bukit Sidengkeng. Dan untuk menarik wisatawan sekaligus menjemput rezeki ada dua badut yang siap diajak berfoto bersama, kita tinggal meletakkan uang di tempat yang disediakan, dan bisa memilih foto langsung jadi atau foto dengan kamera sendiri. Meski suka banget karakter Doraemon sayangnya Isya dan Himda kurang suka badut, jadi kami meneruskan perjalanan ke kawah Sikendang.


Sepanjang jalan yang kami lalui melewati pepohonan yang rindang dan tinggi, udara yang sejuk, dan suasana yang tenang khas pegunungan. Banyak pengunjung yang berfoto dan tidak melewatkan sedikitpun keindahan tempat ini. Di sepanjang jalan, kami juga menjumpai penjual masker. Di kompleks Telaga Warna memang tercium aroma belerang meski tidak terlalu kuat.


-



                                                        Kawah Sikendang

Setelah dari Kawah Sikendang kami berbalik arah lalu menuju lokasi gua-gua di Telaga Warna. Gua-gua ini membuat suasana menjadi mistis. Sebelum sampai di gua, kami menjumpai Batu Tulis. Batu Tulis ini sendiri berupa sebuah batu besar yang berada diantara Telaga Warna dan Telaga Pengilon. Di depan batu terdapat arca Gajahmada dan batu ini disebut juga batu semar karena bentuk batu tersebut menyerupai tokoh seorang semar (punakawan). 


Selain makna filosifinya bahwa kita harus memiliki pedoman hidup/kitab utuk belajar agama, tempat tersebut juga di anggap sebagai tempat meditasi oleh komunitas kejawen dan masyarakat hindu pada jaman dulu sebagaimana di ceritakan dari salah satu prasasti yang pernah di temukan di dieng yaitu prasasti Wadihati ( Musium Nasional Jakarta ). Ketika pada masa peradaban Hindu di dieng juga sudah di gunakan oleh para kawikuan sebagai tempat kegiatan Askestik. Baru sampai di sini sudah terasa suasana mistisnya.

Kami melanjutkan perjalanan ke gua-gua yang ada di kompleks wisata Telaga Warna. Ada 4 gua yang masing-masing punya kisah unik yang tertulis di pintu masuk gua-gua tersebut.

1. Gua Jaran

Dalam bahasa Jawa, Gua Jaran berarti Gua Kuda yang dulu menjadi tempat pertapaan Resi Kendaliseto. Legenda yang berkembang tentang gua ini adalah cerita bahwa suatu hari hujan turun dengan sangat deras. 






Saat itu pula, ada seekor kuda kebingungan mencari tempat  untuk berteduh dari hujan yang turun. Kuda itu berlari kesana kemari. Akhirnya, kuda itu menemukan sebuah lubang besar, lalu ia masuk kedalamnya. Anehnya, saat keluar keesokan harinya kuda itu sudah dalam keadaan hamil. Itulah sebabnya hingga sekarang sebagian orang mempercayai bahwa gua ini bisa membantu kaum wanita yang ingin mempunyai anak dengan cara bersemedi di dalamnya.

2. Gua Sumur

Dalam gua ini terdapat sebuah kolam kecil yang airnya sangat jernih lagi dingin. Kondisi alam menjadi penyebab gua ini dinamakan Gua Sumur. Sumber air itu dikenal dengan nama Tirta Prawitasari, dipercaya mempunyai tuah dan dijaga oleh Eyang Kumolosari.




 
Air dari gua ini sering dimanfaatkan oleh umat Hindu dari Pulau Bali unuk upacara Muspe atau Mubakti. Selain itu air Tirta Prawitasari ini juga dipercaya bisa membantu penyembuhan berbagai jenis penyakit dan juga bisa membuat kulit menjadi lebih halus.

3. Gua Semar

Gua Semar memiliki ruang seluas kurang lebih 4 meter persegi yang sering digunakan untuk bertapa. Gua ini konon dijaga oleh Eyang Semar sehingga dinamakan Gua Semar.





Gua ini pernah menjadi tempat bertapa para raja Jawa dan pemimpin negeri ini. Pada tahun 1974, Bapak Soeharto (mantan presiden kedua RI), juga bertapa di gua ini.

4. Gua Pengantin




Tak ada informasi tertulis tentang gua ini. Namun konon gua ini mampu mendatangkan jodoh bagi seseorang dengan bersemedi di dalamnya dengan membawa sejumlah persyaratan didampingi oleh juru kunci.

Mengingat membawa dua balita, membuat kami tidak bisa berlama-lama di tempat ini. Kami segera melanjutkan perjalanan ke gua pengilon. Di jalan, kami menjumpai 4 badut Teletubbies yang menarik perhatian pengunjung agar mau berfoto bersama. Mereka berjoget lucu mengikuti irama musik, memecahkan suasana yang hening di sini.



Untuk menuju ke Telaga Pengilon, kami melewati jalanan yang sedikit berlumpur. Untungnya Isya dan Himda masih sanggup berjalan sampa ke sini. Airnya jernih seperti kaca membuat telaga ini dinamakan Telaga Pengilon. Mitos yang berkembang menyebutkan danau ini bisa untuk mengetahui isi hati manusia. Bila ia terlihat cantik atau tampan ketika memandang air telaga ini, maka htinya baik. Sebaliknya, ia termasuk orang berhati busuk. Wallahu a'lam. Yang jelas, adanya legenda atau cerita menjadi daya tarik tersendiri dan bisa menjadi nilai tambah untuk sebuah objek wisata.

Sekembalinya dari Telaga Warna, saya masih penasaran dengan legenda yang  menyertainya. Dan setelah mencari dari berbagai sumber ternyata ada beberapa versi cerita tentang Telaga Warna. Salah satu diantaranya :Alkisah, hidup seorang ratu yang terkenal di samudra luas sebagai penguasanya. Sang Ratu memiliki seorang putrid yang cantik telah tumbuh dewasa. Saat itu kecantikan sangat terkenal hingga suatu saat datanglah dua orang Kesatria muda berparas tampan yang bermaksud meminang Sang Ratu untuk dijadikan istri.

Pada saat itu, Ratu menjadi sangat bingung. Ia harus memilih salah satu di antara dua Ksatria tampan untuk dipilih menjadi menantunya. Di akhir kebingungannya, muncullah ide Sang Ratu untuk mengadakan sayembara membuat telaga. Siapa yang lebih cepat membuat telaganya, dialah yang boleh mempersunting puterinya.

Pada waktu yang telah ditentukan, dua kesatria tampan itu berlomba membuat telaga. Ternyata Kesatria pertama lebih sepat dalam membuat telaga Menjer dari pada Kesatria kedua yang membuat telaga pengilon. Oleh karena itu, kesatria pertama pun dinyatakan sebagai pemenang dan berhak menyunting puteri Ratu sebagai istrinya.

Waktu berjalan dan belum berselang dua hari mereka menikah, Ratu disertai puterinya berwisata ke Dieng. Saat mereka tiba di kawasan yang sekarang menjadi Cagar Alam serta menikmati keindahan panorama dan kemilaunya telaga Pengilon, maka saat pandangan Sang Ratu tertuju ke telaga Pengilon, ia begitu terkesan dan serta merta mencari informasi siapa gerangan pembuat telaga ini. Seperti diceritakan, pembuat tidak lain adalah kesatria kedua yang kalah dalam perlombaan.

Tak lama kemudian, Sang Ratu memanggil pengawalnya dan memerintahkan untuk menghadirkan menantunya, si Kesatria pertama, ke hadapannya. Begitu menantunya datang menghadap, Sang Ratu langsung bersabda: “Kamu saya batalkan menjadi menantu, dan kamu saya kutuk menjadi naga untuk menjaga samudra”. Kemudian posisi kesatria pertama sebagai menantu pun digantikan oleh kesatria yang kalah dalam lomba.

Mengapa Sang Ratu tidak teguh pendirian lalu berubah pikiran? Alkisah , saat menikmati indahnya telaga Pengilon, Sang Ratu dasn puterinya sangat terkesan. Dalam hati mereka membandingkan dengan telaga Menjer buatan kesatria  pertama yang biarpun waktu pembuatannya lebih cepat, namun buatanya kasar. Airnya beriak/bergelombang. Ini menandakan bahwa sifat pembuatnya kurang baik. Sebaliknya, telaga Pengilon buatan kesatria kedua airnya jernih, berkilau-kilau, tenang, penuh kedamaian dan semua ini menandakan bahwa kesatria kedua pembuat telaga Pengilon ini memiliki sifat dan hati yang baik.

Karena sangat terkesan, lalu Sang Ratu dan puterinya pun mandi. Mereka menyangkutkan pakaiannya di pepohonan. Di tengah-tengah kesyikan mereka berkecimpung di dalam air yang sejuk, sekonyong-konyong datang angin kencang yang menerbangkan pakaian Sang Ratu dan putrinya yang berwarna-warni dsan terjatuh di bagian telaga yang lain. Sesaat air telaga itu berubah warnanya, lalu terciptalah telaga warna sebagai akibat jatuhnya pakaian Sang Ratu dan putrinya (“yang luntur”) ke dalam air telaga. 

Mengunjungi sebuah objek wisata selain karena keindahannya, juga berbagai legenda atau berbagai versi cerita yang menyertainya menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Selain cerita di atas, ada pula versi lain bahwa Telaga Warna merupakan tempat jatuhnya cincin seorang bangsawan, dan versi lain menceritakan Telaga ini tempat jatuhnya Cupu Manikastagina (Cupu dari air kahyangan yang bisa memperlihatkan isi alam semesta) milik Batara Surya yang diberikan pada Dewi Windradi, istri Resi Gotama. 

Cupu Manikastagina, bisa memperlihatkan alam semesta yang bersih tanpa dosa 

Cupu Manikastagina, diperebutkan ketiga putra-putri Resi Gotama

Air Telaga bisa dimanfaatkan warga sekitar untuk pengairan


Oleh Dewi Windradi, Cupu ini diberikan pada putrinya, Dewi Anjani. Begitu mengetahui keberadaan cupu ini  Guwarsa dan Guwarsi pun ingin memilikinya. Ayah mereka (Resi Gotama) cemburu pada Batara Surya dan marah melihat ketiga putra-putrinya berebut Cupu Manikastagina lalu melempar Cupu ini ke langit. Isi Cupu Manikastagina jatuh ke telaga dan Guwarsa serta Guwarsi yang menyelam ke Telaga mencari Cupu tersebut berubah menjadi kera dan dikenal dengan nama Sugriwa dan Subali.

Secara ilmiah, Telaga Warna mengandung sulfur yang jika terkena matahari, air telaga bisa menjadi berubah warna warni. Dengan pesona alam yang dimiliki dan berbagai macam legenda yang menyertainya membuat Telaga Warna menjadi salah satu favorit tujuan wisata di Dieng Wonosobo. Setelah menikmati pesona alam Dieng, pengunjung bisa berwisata kuliner khas Wonosobo seperti Mie Ongklok, Manisan Carica, purwaceng, jamur dan kacang Dieng

Untuk menuju ke telaga warna dapat ditempuh dari pusat Kota Wonosobo dengan menggunakan kendaraan umum dari terminal Kota Wonosobo, dengan menempuh jarak sekitar 30 kilometer, atau selama 45 menit sampai 1 jam. Tetapi jika ingin menggunakan kendaraan pribadi, pastikan kendaraan dalam keadaan baik. Hal ini disebabkan oleh medan jalan yang dilewati cukup berliku dan menanjak. Selain itu, di kanan dan kiri jalan berbatasan langsung dengan jurang yang cukup dalam. Kondisikan pula badan dalam keadaan fit dan menyediakan perlengkapan baju hangat karena udara Dieng lumayan dingin dan membawa masker bila perlu.














Referensi

http://www.diengindonesia.com/2012/12/sejarah-batu-tulis-dieng.html 
https://menuwisatadieng.wordpress.com/2013/05/01/legenda-telaga-warna-dan-telaga-pengilon-dieng/
http://www.indonesiakaya.com/kanal/detail/tumpahan-cupumanik-astagina-yang-mewarnai-telaga-warna
http://legendadieng.blogspot.com/2014/02/legenda-telaga-warna-telaga-pengilon.html 
Video: Buaian Telaga Warna

Komentar

  1. Perkenalkan, saya dari tim kumpulbagi. Saya ingin tau, apakah kiranya anda berencana untuk mengoleksi files menggunakan hosting yang baru?
    Jika ya, silahkan kunjungi website ini www.kbagi.com untuk info selengkapnya.

    Di sana anda bisa dengan bebas share dan mendowload foto-foto keluarga dan trip, music, video, filem dll dalam jumlah dan waktu yang tidak terbatas, setelah registrasi terlebih dahulu. Gratis :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

3 KEHAMILAN, 3 PENGALAMAN MENAKJUBKAN

MENIKMATI EKSOTISME JEPARA DI PANTAI BANDENGAN DAN PULAU PANJANG