KELUARGA SEBAGAI PONDASI UTAMA DALAM BERDAKWAH

Sangat menarik ketika saya membaca berbagai artikel yang ditulis oleh salah satu pakar parenting Indonesia, Ayah Edy. Ayah Edy ini mencetuskan program Indonesia Strong From Home, dimana beliau memiliki visi misi untuk membangun generasi Indonesia yang kuat, cerdas dan berkahlak mulia dari keluarga atau biasa disebut homeschooling. Homeschooling adalah pendidikan berbasis keluarga dimana orang tua menjadi contoh langsung bagaimana berakhlak dan berperilaku sehari-hari. Ayah Edy mencontohkan Rasulullah Muhammad SAW yang sepeninggal orang tua beliau, Rasulullah dididik dengan penuh kasih sayangnya oleh Kakek Abdul Mutholib dan pamannya Abu Tholib. Homeshooling sebenarnya telah diatur dalam Islam dan telah dicontohkan langsung oleh Rasulullah. Ayah Edy juga mencontohkan para nabi-nabi kita yang dididik oleh ayah atau kakeknya. Dan para nabi menghasilkan nabi-nabi berikutnya. Sebagai contoh nabi Ismail dan nabi Ishak putra dari nabi Ibrahim. Nabi Sulaiman putra dari nabi Daud, Nabi Yusuf putra dari nabi Yakub. dan sejarah juga mencatat kemuliaan akhklak Sayidatina Fatimah putri Rasulullah SAW.

Siapapun tak ada yang meragukan akhlak mulia Rasulullah Muhammad SAW. Beliau adalah tauladan umat Islam hingga akhir zaman. Rasulullah pun memiliki julukan uswatun khasanah atau teladan yang baik. Salah satu keteladanan beliau bisa kita pelajari dari cara beliau berakhlak dengan keluarga khususnya anak sebagai generasi penerus masa depan

 Sebagimana ditulis dalam cyberdakwah, Sayyidatina Aisyah ra meriwayatkan: bahwa datang seorang Badui kepada Rasulullah SAW: kalian suka benar menciumi anak, sedang kami tidak pernah melakukan yang demikian itu. Maka Rasulullah SAW segera membalas,"apakah yang hendak kukatakan bila rahmat sudah hilang tercabut dari seseorang." Begitu pentingnya mencintai anak terutama dalam fase pertumbuhannya, Rasulullah mengajari kita untuk mencintai anak melalui sentuhan dan doa yang selalu terpanjatkan kepada Allah SWT. Adab mendidik anak juga diajarkan Nabi melalui perintah shalat. 

مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِى الْمَضَاجِعِ

 “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat saat berumur tujuh tahun dan pukulah mereka jika tidak shalat saat berumur sepuluh tahun, dan pisahkanlah mereka dalam tempat tidur.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud II/167)

shalat merupakan amalan yang pertama kali dihisab selain itu shalat menjadi wujud kedisiplinan serta kewajiban kita sebagai hamba Allah. Oleh karena itu shalat mendapat porsi penting dalam pendidikan anak.
Rasulullah juga mengajarkan kita untuk mendidik anak dengan akhlak yang baik.

Bukan hanya mengajarkan, Rasulullah juga mempraktekkan secara langsung, berbagai kisah mengabadikan kelembutan akhlak Rasul terhadap anak-anak, keluarga dan seluruh umatnya. 
 Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu dia berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقًا وَكَانَ لِي أَخٌ يُقَالُ لَهُ أَبُو عُمَيْرٍ -قَالَ: أَحْسِبُهُ فَطِيمًا- وَكَانَ إِذَا جَاءَ قَالَ: يَا أَبَا عُمَيْرٍ مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ؟ نُغَرٌ كَانَ يَلْعَبُ بِهِ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sosok yang paling mulia akhlaknya. Aku memiliki saudara yang bernama Abu ‘Umair -Perawi mengatakan: Aku mengira Anas berkata: “Kala itu dia sudah memahami ucapan”- Maka apabila beliau shallallahu alaihi wasallam datang, beliau akan bertanya, “Wahai Abu Umair, bagaimana kabar si nughair”. Nughair adalah burung kecil (pipit) yang Abu Umair senang bermain dengannya.” (HR. Al-Bukhari no. 6203 dan Muslim no. 4003)
Dalam sebuah riwayat Al-Bukhari, “Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wasallam biasa berbaur dengan kami.”

Dari Buraidah radhiallahu anhu dia berkata:
خَطَبَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَقْبَلَ الْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَلَيْهِمَا قَمِيصَانِ أَحْمَرَانِ يَعْثُرَانِ وَيَقُومَانِ. فَنَزَلَ فَأَخَذَهُمَا فَصَعِدَ بِهِمَا الْمِنْبَرَ ثُمَّ قَالَ: صَدَقَ اللَّهُ: { إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ }. رَأَيْتُ هَذَيْنِ فَلَمْ أَصْبِرْ ثُمَّ أَخَذَ فِي الْخُطْبَةِ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berceramah di tengah-tengah kami, lalu tiba-tiba Hasan dan Husain radhiallahu ‘anhuma datang dengan mengenakan baju berwarna merah. Keduanya terjatuh lalu berdiri kembali. Melihat hal itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam turun dari mimbar lalu menggendong keduanya lalu membawa keduanya ke atas mimbar. Kemudian beliau bersabda, “Maha benar Allah atas firman-Nya, “Sesungguhnya harta-harta kalian dan anak-anak kalian hanyalah ujian.” (QS. At-Taghabun: 15). Aku melihat lucunya kedua anak ini sampai aku tidak sabar untuk segera menggendongnya.” Setelah itu beliau shallallahu alaihi wasallam baru memulai khutbahnya.” (HR. Abu Daud no. 109, Ibnu Majah no. 3590, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 3757

Rasulullah SAW adalah panutan kita dalam bermuamalah dengan anak.  Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memperlakukan anak-anak para sahabat beliau. Dari dalil-dalil di atas kita bisa melihat dengan jelas bagaimana besarnya kasih sayang beliau shallallahu alaihi wasallam kepada kedua cucu beliau yang masih kecil, sampai-sampai beliau menunda ceramah beliau hanya agar beliau bisa menggendong keduanya. Ini beliau lakukan guna menampakkan kasih sayang dan kecintaan beliau kepada keduanya dan sekaligus sebagai pelajaran kepada para sahabat beliau. Beliau shallallahu alaihi wasallam bahkan tidak sungkan-sungkan untuk berbaur dengan mereka dan bermain dengan mereka, dan makan bersama mereka tanpa ada perasaan risih sama sekali. Semua itu beliau lakukan agar anak-anak para sahabat merasakan kasih sayang dan kecintaan dalam hati-hati mereka, yang mana perasaan seperti ini bisa mendatangkan kebaikan bagi jiwa-jiwa mereka. Beliau shallallahu alaihi wasallam juga sangat menghormati hak anak-anak, dan beliau tidak pernah menahan hak mereka hanya karena alasan mereka masih kecil.

Menurut Ratna Megawangi (Praktisi Pendidikan Holistik) Pendidikan karakter sangat penting diajarkan di usia dini. Pendidikan karakter adalah pendidikan yang meliputi pendidikan moral dan agama, wajib diberikan di sekolah (formal), maupun informal (keluarga/rumah).

Ada 9 pilar karakter yang penting ditanamkan sejak usia dini adalah :
1. Cinta Tuhan dan alam semesta beserta isinya
2. Tanggung jawab, kedisiplinan, dan kemandirian.
3. Kejujuran
4. Hormat & santun
5. Kasih sayang, kepedulian, dan kerjasama
6. Percaya diri, kreatif, kerja keras dan pantang menyerah.
7. Keadilan dan kepemimpinan
8. Kebaikan hati dan rendah hati
9. Toleransi, cinta damai, dan persatuan.

Walaupun kelihatannya sederhana, dan sudah sering di dengar sehari-hari, namun pada kenyataannnya banyak orang tua dan guru lalai. Mereka memberikan hanya pada sampai tahap tahu dan hapal, tetapi tidak mengalirkan pengetahuan itu menjadi kebiasaan dan karakter.
Terlebih lagi bagi sejumlah orang tua, menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab pendidikan (termasuk pendidikan karakter ini) kepada guru. Padahal sebetulnya orang tualah yang mempunyai peran lebih besar terhadap persoalan ini.

Yang harus disadari oleh orang tua, pendidikan karakter bukanlah ketrampilan yang instan, perlu waktu panjang dan harus dimulai sejak usia dini. Ini artinya orang tua dan keluargalah yang paling memungkinkan, bukan guru atau sekolah.

Usia dini adalah usia emas, sangat berbahaya jika pada saat ini anak-anak salah diberikan pendidikan, karena akan terbawa sampai dewasa.
(sumber : Majalah Buah hati)
 Dan 9 pilar ini sudah diajarkan dalam Islam, dicontohkan oleh Rasulullah dan seharusnya kita sebagai orang tua menularkannya pada anak. Karena melalui orang tualah anak belajar dan meniru. Sebagai Agent of Change, kita diberi amanah oleh Allah untuk mendidik anak. dan akan dimintai pertanggung jawabannya sejauh mana kita bisa mendidik anak sesuai jalan Allah.

Pendidikan karakter dan homeshooling juga bisa kita lihat di dalam sejarah kehidupan para waliyullah tanah Jawa atau yang lebih dikenal dengan Walisongo. Salah satunya Sunan Kalijaga.
Sunan Kalijaga adalah seorang bangsawan putra Adipati Tuban yang bernama Tumenggung Wilatikta. Saat muda, Sunan Kalijaga yang memiliki nama asli Raden Said, sering mengumandangkan ayat-ayat Al-Quran di waktu malam di kamarnya hingga akhirnya karena melihat kondisi rakyat yang sengsara Raden Said mencuri harta pejabat kaya terutama pejabat pelit dan curang lalu dibagikan pada rakyat miskin. Ada seorang perampok sejati yang mengetahui aksi Raden Said lalu merampok dengan menyamar sebagai Raden Said. Raden Said pun ditangkap dan diusir dari Kabupaten Tuban.
"Pergi dari kadipaten tuban ini! Kau telah mencoreng nama baik keluargamu sendiri, pergi! Jangan kembali sebelum kau dapat menggetarkan dinding-dinding istana kadipaten tuban ini dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang sering kau baca di malam hari."

Akhirnya adipati tuban menangkap para perampok yang mengacau kadipaten tuban. Hati ibu Raden Said seketika terguncang.Kebetulan saat ditangkap oleh prajurit tuban, kepala perampok  itu mengenakan pakaian dan topeng yang persis dengan yang dikenakan oleh Raden Said. Rahasia yang selama ini tertutup rapat terbongkarlah sudah. Dari pengakuan perampok itu tahulah adipati tuban bahwa Raden Said tidak bersalah. Ibu Raden Said menangis sejadi-jadinya. Sementara Raden Said, atas izin Allah bertemu bertemu dan berguru pada Sunan Bonang hingga memiliki gelar Sunan Kalijaga. Beliau sangat arif dan bijaksana dalam berdakwah sehingga dapat diterima dan dianggap sebagai guru se tanah jawa.
Hikmah yang bisa kita petik dalam kisah ini, meskipun anak bersalah, sebagai orang tua kita perlu bertabayyun, tidak emosional yang memicu sikap brutal, selain itu mendoakan anak dengan permohonan yang baik pada Allah SWT. Tidak mencaci maki atau merendahkan harga diri anak. Karena kata-kata adalah bagian dari doa. Terutama perkataan yang keluar dari mulut orang tua untuk anaknya.

Sebagaimana para nabi yang melahirkan nabi-nabi berikutnya, para walisongo juga memiliki garis keturunan mulia. 
  • Sunan Ampel sebagai sesepuh walisongo sepeninggal Syekh Maulana Malik Ibrahim, semula bernama Sayyid Ali Rahmatullah/ Raden Rahmat merupakan putra dari Syekh Ibrahim Asamarkandi dan kakek beliau adalah Syekh Jamalluddin Jumadil Kubro seorang ulama besar di Samarqand
  • Sunan Giri/Raden Paku adalah putra dari Syekh Maulana Ishak yang bergelar Syekh Awwalul Islam, seorang ulama besar di negeri Pasai. Selain berguru apada ayahnya, Sunan Giri juga berguru pada ulama besar lainnya.
  • Sunan Bonang/Raden Makdum Ibrahim adalah putra Sunan Ampel. Sejak kecil Raden Makdum Ibrahim sudah diberi pelajaran agama Islam secara tekun dan disiplin. Disebutkan dari berbagai literatur bahwa Raden Makdum Ibrahim dan Raden Paku sewaktu masih remaja meneruskan pelajaran agama Islam ke tanah seberang yaitu negeri Pasai. Keduanya menambah pengetahuan kepada Syekh Awwalul Islam atau ayah kandung dari Sunan Giri, juga belajar kepada para ulama besar yang banyak menetap di Negeri Pasai. Seperti ulama tasawuf yang berasal dari bagdad, Mesin, Arab dan Parsi atau Iran.Sesudah belajar di negeri Pasai Raden Makdum Ibrahim pulang ke jawa. Raden Makdum Ibrahim diperintahkan Sunan Ampel untuk berdakwah di daerah Lasem, Rembang, Tuban dan daerah Sempadan Surabaya dan bergelar Sunan Bonang.
  • Sunan Kudus dilahirkan dengan nama Sayyid Ja'far Shadiq Azmatkhan. Dia adalah putra dari pasangan Sunan Ngudung (Sayyid Utsman Haji)  dengan Syarifah Dewi Rahil binti Sunan Bonang. Beliau adalah keturunan ke-24 dari Nabi Muhammad dan lahir di Al-Quds Palestina. Disamping belajar agama kepada ayahnya sendiri, Ja’far Sodiq juga belajar kepada beberapa ulama terkenal. Diantaranya kepada Kiai Telingsing, Ki Ageng Ngerang, Sunan Ampel dan juga Sunan Kalijaga.
  •  Nama asli Sunan Drajad adalah Raden Qosim, beliau putera Sunan Ampel dengan Dewi Condrowati dan merupakan adik dari Raden Makdum Ibrahim atau Sunan Bonang.Raden Qosim yang sudah mewarisi ilmu dari ayahnya kemudian diperintah untuk berdakwah di sebelah barat Gresik yaitu daerah kosong dari ulama besar antara Tuban dan Gresik.Dalam catatan sejarah wali songo, Raden Qosim disebut sebagai seorang wali yang hidupnya paling bersahaja, walau dalam urusan dunia beliau juga rajin mencari rezeki. Hal itu disebabkan sikap beliau yang dermawan. Dikalangan  rakyat jelata beliau bersifat lemah lembut dan sering menolong mereka yang menderita. Sunan Drajad demikian gelar Raden Qosim, diberikan kepada beliau karena beliau bertempat tinggal di sebuah bukit yang tinggi, seakan melambangkan tingkat ilmunya yang tinggi, yaitu tingkat atau dejat para ulama muqarrobin. Ulama yang dekat dengan Allah SWT.
  • Sunan Muria.  Beliau adalah putera Sunan Kalijaga dengan Dewi Saroh. Nama aslinya Raden Umar Said. Seperti ayahnya, dalam berdakwah beliau menggunakan cara halus, ibarat mengambil ikan tidak sampai mengeruhkan airnya. Itulah cara yang ditempuh untuk menyiarkan agama Islam di sekitar Gunung Muria.Tempat tinggal beliau di gunung Muria yang salah satu puncaknya bernama Colo. Letaknya disebelah utara kota Kudus. Sasaran dakwah beliau adalah para pedagang, nelayan, pelaut dan rakyat jelata. Beliau lah satu-satu wali yang tetap mempertahankan kesenian gamelan dan wayang sebagai alat dakwah untuk menyampaikan Islam. Dan beliau pula yang menciptakan tembang Sinom dan Kinanti.
Sebagaimana para walisongo yang melakukan riyadhah dengan tekun hingga mencapai derajat wali Allah, kita juga bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari melalui meneladani akhlak Rasulullah dan menerapkannya dalam keluarga serta memperkaya diri dengan ilmu dan amal. Dengan kemajuan teknologi kita bisa terus beraktivitas sambil belajar seperti bekerja atau mengurus rumah tangga sambil mendengarkan siaran dakwah dari berbagai channel radio dari berbagai pondok pesantren melalui Streaming Islami , mendaras buku, mengenal lebih jauh ajaran ahlussunah wal jamaah, mempelajari islam lebih dalam dapat kita lakukan kapanpun dan dimanapun dengan adanya situs online seperti www.muslimedianews.com, www.nu.or.id, dan www.habiblutfi.net.

 Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – bersabda,
“Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap dari kalian bertanggung jawab atas yang ia pimpin, seorang amir adalah pemimpin, dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya, seorang lelaki adalah pemimpin bagi keluarganya, dan ia bertanggung jawab atas keluarganya, seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan anaknya, dan ia bertanggung jawab atas mereka, seorang hamba adalah pemimpin atas harta tuannya, maka ia bertanggung jawab atasnya. Ketahuilah setiap dari kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas apa yang ia pimpin.” (diriwayatkan oleh Bukhari no 7138 dan Muslim 1829).

Sebagaimana Rasulullah yang mencintai dan menyanyangi keluarga berlandaskan agama, para walisongo yang menyayangi dan mendidik keluarga dengan ilmu dan ketauhidan, sebagaimana yang sering digaungkan ayah Edy, Indonesia Strong from home. Pribadi yang kuat dan tangguh berawal dari keluarga yang kuat pula. Mari melindungi anak-anak kita dari pengaruh negatif perkembangan jaman, dengan memberikan mereka keyakinan pada Allah, ilmu agama dan ilmu dunia yang berimbang serta cinta dan kasih sayang .


Sumber referensi:
http://cyberdakwah.com/2013/06/yuckk-intip-cara-nabi-mendidik-buah-hati/
http://majalahsakinah.com/2014/04/kiat-kiat-mengajari-anak-shalat/
http://al-atsariyyah.com/akhlak-nubuwah-terhadap-anak-kecil.html
http://kisah-kisahwalisongo.blogspot.com/
http://id.wikipedia.org/wiki/Sunan_Kudus
Sayyidatina Aisyah r.a meriwayatkan : bahwa datang seorang Badwi kepada Rasulullah s.a.w. : Kalian suka benar menciumi anak, sedang kami tidak pernah melakukan yang demikian itu. Maka Rasulullah s.a.w. segera membalas “Apakah yang hendak kukatakan bila rahmat sudah hilang tercabut dari seseorang. - See more at: http://cyberdakwah.com/2013/06/yuckk-intip-cara-nabi-mendidik-buah-hati/#sthash.rcI3XU7P.dpuf
Sayyidatina Aisyah r.a meriwayatkan : bahwa datang seorang Badwi kepada Rasulullah s.a.w. : Kalian suka benar menciumi anak, sedang kami tidak pernah melakukan yang demikian itu. Maka Rasulullah s.a.w. segera membalas “Apakah yang hendak kukatakan bila rahmat sudah hilang tercabut dari seseorang. - See more at: http://cyberdakwah.com/2013/06/yuckk-intip-cara-nabi-mendidik-buah-hati/#sthash.rcI3XU7P.dpuf
Sayyidatina Aisyah r.a meriwayatkan : bahwa datang seorang Badwi kepada Rasulullah s.a.w. : Kalian suka benar menciumi anak, sedang kami tidak pernah melakukan yang demikian itu. Maka Rasulullah s.a.w. segera membalas “Apakah yang hendak kukatakan bila rahmat sudah hilang tercabut dari seseorang. - See more at: http://cyberdakwah.com/2013/06/yuckk-intip-cara-nabi-mendidik-buah-hati/#sthash.rcI3XU7P.dpuf
Sayyidatina Aisyah r.a meriwayatkan : bahwa datang seorang Badwi kepada Rasulullah s.a.w. : Kalian suka benar menciumi anak, sedang kami tidak pernah melakukan yang demikian itu. Maka Rasulullah s.a.w. segera membalas “Apakah yang hendak kukatakan bila rahmat sudah hilang tercabut dari seseorang. - See more at: http://cyberdakwah.com/2013/06/yuckk-intip-cara-nabi-mendidik-buah-hati/#sthash.rcI3XU7P.dpuf
Abu Thalhah yang melihat kejadian itu langsung menghampiri Rasulullah saw. dengan histeris untuk membantu dan mengetahui keadaan beliau, kalimat yang pertama keluar dari lisan beliau adalah bagaimana keadaan Shafiah. Setelah diketahui bahwa Shafiah pun baik-baik saja, baru hati beliau tenang.
Beliau besabda,
“Aku baik-baik saja (aku ra po-po). Tetapi bagaimana keadaan Shafiah (itu yang lebih penting)”. [Al-Bukhari, Al-Jami’ Al-Shahih]
- See more at: http://cyberdakwah.com/2014/04/ungkapan-aku-ra-po-po-sebagai-bukti-rasa-perhatian-nabi-pada-istrinya/#sthash.maeergCl.dpuf
Abu Thalhah yang melihat kejadian itu langsung menghampiri Rasulullah saw. dengan histeris untuk membantu dan mengetahui keadaan beliau, kalimat yang pertama keluar dari lisan beliau adalah bagaimana keadaan Shafiah. Setelah diketahui bahwa Shafiah pun baik-baik saja, baru hati beliau tenang.
Beliau besabda,
“Aku baik-baik saja (aku ra po-po). Tetapi bagaimana keadaan Shafiah (itu yang lebih penting)”. [Al-Bukhari, Al-Jami’ Al-Shahih]
- See more at: http://cyberdakwah.com/2014/04/ungkapan-aku-ra-po-po-sebagai-bukti-rasa-perhatian-nabi-pada-istrinya/#sthash.maeergCl.dpuf
Abu Thalhah yang melihat kejadian itu langsung menghampiri Rasulullah saw. dengan histeris untuk membantu dan mengetahui keadaan beliau, kalimat yang pertama keluar dari lisan beliau adalah bagaimana keadaan Shafiah. Setelah diketahui bahwa Shafiah pun baik-baik saja, baru hati beliau tenang.
Beliau besabda,
“Aku baik-baik saja (aku ra po-po). Tetapi bagaimana keadaan Shafiah (itu yang lebih penting)”. [Al-Bukhari, Al-Jami’ Al-Shahih]
- See more at: http://cyberdakwah.com/2014/04/ungkapan-aku-ra-po-po-sebagai-bukti-rasa-perhatian-nabi-pada-istrinya/#sthash.maeergCl.dpuf

Komentar

  1. Mantap Mbak tulisannya ttg pembentukan karakter anak... Semoga menjadi pedoman bagi para Emak dlm mendidik dan mengasuh buah hati...

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

3 KEHAMILAN, 3 PENGALAMAN MENAKJUBKAN

MENIKMATI EKSOTISME JEPARA DI PANTAI BANDENGAN DAN PULAU PANJANG