Bumbu dapur untuk kesehatan tubuh

Salam kenal Mba Evi

             Suka sekali baca jurnalnya, infonya manfaat dan banyak memberi ilmu terutama bagi saya. Saya sangat tertarik dengan postingan Mba Evi yang berjudul Bumbu dapur untuk kesehatan Tubuh. Saya ingat sekali, ibu saya tidak suka memasak dengan MSG, saos dan bumbu instan. Meski tidak benar-benar menjauhinya karena saat ada acara keluarga seperti nikahan, aqiqah, atau syukuran perlu sedikit bantuan MSG/ bumbu instan apalagi jika tukang masaknya maniak MSG. Akibatnya dari kecil saya tidak pernah melihat saos nangkring di meja makan. Kalaupun ada berarti pemberian dari tamu/ saudara. Ibu saya juga lebih suka uang kembalian untuk membeli bumbu daripada vetsin. Bagi beliau, masakan yang enak dan sehat itu yang kaya bumbu, ini berlaku bukan hanya untuk keluarga tapi juga untuk orang lain yang akan makan masakan ibu. Saat kami mendapat pesanan katering, ibu menyewa 2 orang tukang masak, dari awal ibu sudah wanti-wanti agar bumbunya yang banyak dan sedikit vetsin. Kebetulan, salah seorang tukang masak ( Bu Wadi) ini biasa berjualan nasi rames di rumahnya . Setelah acara masak selesai dan masakan sudah diantar ke konsumen, ternyata stok bumbu masih banyak, o la la, ternyata mereka memilih memakai banyak vetsin. Mungkin kebiasaan ya..
      Meluasnya penggunaan vetsin, secara teksnis memang membuat acara masak menjadi lebih cepat, dan rasanya lebih gurih. sementara dengan bumbu kesannya memang lebih ribet. Bumbu harus dikupas, lalu di uleg, ditumis/direbus, belum lagi kalau bumbunya banyak seperti untuk memasak rendang, ditambah pegelnya menguleg, wah setelah terhidang di meja, masakan terasa benar-benar nikmat karena melewati sekian proses perjuangan.
          Dari internet, banyak disebutkan dampak negatif penggunaan vetsin, dari jenis vetsin dan akibat yang ditimbulkan. Dilain waktu, saya pernah membaca jika vetsin juga termasuk dalam golongan bumbu dapur yang aman dikonsumsi. Apapun pendapat yang benar, saya tetap sependapat dengan ibu. Bumbu dapur tetaplah kunci makanan/masakan yang enak dan sehat. Bukankah indonesia dijajah karena Bumbu dapur? Indonesia yang kaya rempah-rempah, membuat negeri ini kaya akan kuliner khas dan unik di setiap daerah.
          Selain lebih nikmat, bumbu dapur memang jitu untuk obat. Sejak menikah, saya mengeroki suami menggunakan bawang merah, untuk si kecil bawang merah dihaluskan dan dicampur minyak telon. Sempat ditertawakan ibu mertua, tapi saya percaya tradisional jauh lebih baik. Saat anak sulung saya Isya (2 tahun 9bulan) terkena cacar beberapa bulan lalu, sayapun memanfaatkan bumbu dapur untuk obat. Untuk diminum, berdasarkan resep yang saya dapat dari internet, bahannya temulawak, jahe, kencur dan asam jawa. Direbus lalu diminum. Karena untuk anak, saya menggunakan madu sebagai pemanis sekaligus multivitamin. Untuk dibalurkan, hanya membutuhkan kunir dan asam yang dihaluskan lalu dipanaskan dengan minyak kelapa. Alhamdulillah dalam seminggu anak saya sembuh tanpa perlu ke dokter.
          Saat musim batuk pilek belum lama ini, sayapun kembali menggunakan resep diatas hanya tanpa asam jawa. Kadang diselingi wedang jeruk nipis untuk menghilangkan dahak dan katanya sih, bisa untuk antibiotik. Ternyata postingan Bumbu dapur untuk kesehatan masih memiliki benang merah dengan artikel wedang uwuh = minuman sampah berkhasiat. Dan dari blog Mba Evi, saya mendapat ilmu baru Wedah uwuh dan Teh daun salam

  Bumbu Dapur Untuk Kesehatan Tubuh
 Teh daun salam

wedang+uwuh+4 Wedang Uwuh = Minuman Sampah yang Berkhasiat             
Wedang uwuh sekilas bahannya memang seperti sampah

           Biasanya, saya hanya menggunakan daun salam untuk memasak. Wah, baru tahu saya kalau daun salam bisa disulap menjadi teh yang nikmat dan sehat. Setuju dengan pendapat Mba Evi, berkreasi dengan bumbu dapur sangatlah mudah. Bahannya mudah didapat, bahkan bisa ditanam sendiri di pekarangan rumah. Saya sendiri menanam kunyit di depan rumah. Menanamnya pun mudah, tidak perlu perawatan khusus. Oh iya, untuk wedang uwuh mengingatkan saya pada Teh Rosela. Saya pernah menanamnya dulu. Teh Rosela ini juga kaya manfaat dan warnanya menarik.
            Kesan minuman dari bumbu dapur seperti Teh daun salam atau wedang uwuh memang tidak sefamiliar soft drink atau minuman kemasan yang diiklankan bombastis di berbagai media. Sayang banget ya, padahal Indonesia kaya akan herbal berkhasiat yang tidak kalah dengan obat kimia dan juga herbal dari luar negeri. Memang perlu sosialisasi dan keberanian untuk mencoba. Saya sendiri terbiasa minum jamu karena terpaksa. Bapak saya maniak jamu. Dari saya kecil, saya biasa melihat bapak membeli jamu godog. Entah apa, daun-daun kering mirip sampah yang dibungkus plastik. Dirumah daun-daun itu direbus lalu diminum dengan gula aren, gula batu atau gula merah. Lalu bapak menjatah masing-masing segelas untuk kami. Ampun deh, pahitnya tak terkira. Dilain hari saya baru tahu namanyanya jamu brotowali. Efeknya, lidah saya jadi terbiasa menenggak jamu dan tidak asing dengan bau dedaunan bahan jamu yang bagi sebagian orang mungkin membuat mual. Alhamdulillah, anak saya bisa tertular suka minum jamu :)

 IMG 0056 400x300 Wedang Uwuh = Minuman Sampah yang Berkhasiat
Memang agar lebih menarik, wedang dari bumbu dapur ini perlu disaring agar bersih dari "sampah".
Saya belum pernah mencicipi wedang uwuh. Dilihat dari warnanya, tidak kalah menggoda dengan minuman kemasan tapi jika dilihat dari khasiatnya, ternyata tidak bisa disepelekan. Selama ini saya belum pernah bereksperiman dengan banyak rempah. Meski tahu kaya manfaat, saya baru praktek sebatas pada bahan yang biasa tersedia dirumah seperti jahe, kunir, asam jawa, temulawak dan kencur. Dari artikel Bumbu dapur untuk kesehatan tubuh saya baru mengetahui jika teh daun salam berkhasiat untuk mengurangi resiko penyakit diabetes, kolesterol dan darah tinggi. Saya sering membuat wedang jahe, atau mencampur jahe ke dalam susu, ternyata jahe bisa bisa mencegah penumbatan pembuluh darah yang bisa memicu stroke dan mencegah serangan jantung. Membaca membuat ilmu bertambah dan mengingatkan lagi sesuatu yang dulu kita tahu namun terlupa. Itulah kesan yang saya dapatkan setelah membaca kedua postingan mba Evi ini. Selain itu, membangkitkan lagi keinginan untuk mencoba berbagai resep rempah dan herbal tradisional. Apalagi si kecil sudah terbiasa minum jamu dan minuman herbal ala ibunya. Tidak ada salahnya menjadi Miss Rebus, kan untuk kesehatan agar tidak ketergantungan pada obat kimia dan tidak perlu panik, karena jangan-jangan obat untuk penyakit dan keluhan pada tubuh kita solusinya ada di dapur.
 BANNER EVIINDRAWANTO1 First Give Away Jurnal Evi Indrawanto
Tulisan ini diikutsertakan dalam 

Komentar

  1. Memang bumbu dapur punya funsi ganda, sebagai bumbu maupun herbal. Bisa digunakan untuk menikmatkan masakan dan bisu juga sebagai herbal pencegah dan mengobati penyakit.

    Terima kasih sudah ikut Mbak Siti :)

    BalasHapus
  2. Yang dari alam itu lebih baik bagi kesehatan tubuh kita mbak..

    Ijin ambil berbagai macam bumbunya ya.. saya mau bikin sendiri deh di rumah hehe

    terima kasih sudah menyemarakkan GA mbak Evi.. sudah tercatat sebagai peserta. salam kenal mbak

    BalasHapus
  3. mba evi : terima kasih mba, smg GA nya sukses

    Lozz akbar : salam kenal juga mas...silahkan, sy juga senang bisa berbagi :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

3 KEHAMILAN, 3 PENGALAMAN MENAKJUBKAN

MENIKMATI EKSOTISME JEPARA DI PANTAI BANDENGAN DAN PULAU PANJANG